Kamis, 17 Agustus 2017

SAYA MEMANDANG TUAN GURU BAJANG SEBAGAI OBJEK SENI ..

Oleh : Ardi

Begitu banyak kontent di sosmed yang membahas mengenai TGB. Ulama muda sekaligus umara nan karismatik, kontent yang beragam tsb menyertakan photo-photo beliau yang begitu menarik untuk di cermati.

Jika kita membahas ke-aliman, ke-khusukan dan ke-ilmuam bahkan hingga ke-berhasilan TGB dalam membangun daerah yang di pumpinnya, sepakat kita katakan tidak akan kita ragukan lagi. beliau adalah Contoh Ulama dan umara yang berhasil dalam laku kehidupan-nya.

Semalam saya sempat berdiskusi dengan kawan-kawan pengiat kesenian teater di Malang, pendek kata kami membicarakan apa sih karya seni itu?.

Jika kita mengacu kepada apa yang di katakan Imanuel kent, filusuf abad ke-18 ,si kent mengatakan : seni di buat hanya untuk kepentingan keindahan semata, tidak lebih dari itu.

Terjadi perdebatan yang lumayan seru di antara kawan-kawan ,bermacam teory tentang seni di di utarakan, mungkin terlalu panjang jika saya bahas dalam tulisan ini.

Saya coba memberikan sedikit contoh atas apa yang di teory kan oleh kent ,sebagai contoh sesuatu itu menjadi karya seni jika memang di peruntukan bagi keindahan.

Pensil hanyalah alat untuk menulis, dan jika pensil itu di padukan dengan meja kuno antik dan kemudian pinsil itu di letakan diatas meja dengan di sinari lampu fokus hanya kepada pinsil itu kemudian di tempatkan di galery seni, walau pensil itu tinggal sepotong pun ,maka itu memiliki nila estetika dan pensil itu menjadi karya seni.

Saya pribadi menjadi sedikit ingin membelokan apa itu teory kent yang hanya menyebut karya seni adalah objek mati yang di peruntukan untuk di nikmati keindahan-nya, saya coba mengarahkan sudut pandang saya kepada objek hidup, dalam hal ini manusia.

"Seni adalah rasa, rasa yang muncul dari sudut pandang personal terhadap sebuah objek yang di anggap Indah"
*maaf saya lupa ini teory siapa.

Saya coba menempatkan Tuan Guru Bajang sebagai objek contoh rasa seni yang saya munculkan ,seperti kita ketahui dan ikuti perjalanan dakwah beliau selama ini,
dimanapun beliau berada dan di tempatkan beliau dapat menjadi objek keindahan yang banyak menyedot perhatian.

Hal ini justru bertentangan dengan teory kent yang mengatakan bahwa seni adalah segala hal yang khusus di ciptakan untuk keindahan.

Tuan Guru Bajang tidaklah demikian, beliau ulama sekaligus umara ,sebagai individu beliau juga pencinta olah raga bersepeda dan banyak lainnya, beliau sebagai umara dengan kesadaran sebagi ulama yang visioner juga menciptakan karya seni fenomenal, tengok saja keindahan islamic center (IC) .

Beliau tidak hanya di ciptakan Tuhan yang maha esa sebagai objek seni belaka, beliau ulama dan umara namun memenuhi unsur keindahan sebagai manusia.

Saya hanya ingin mengatakan, bahwa sebaik-baik pencipta keindahan adalah Tuhan yang maha esa, dan Tuan Guru Bajang memenuhi unsur keindahan seni ciptaan Tuhan yang maha esa.
Dan itu melampaui semua teory manusia pada umumnya.

Salam

*ardi selalu bersama kopi.
-Penggiat Di Rumah Politik Amoz-


UBAH DIRIMU, PEMIMPINMU. ITU-PUN JIKA ENGKAU MERASA PERLU

Oleh : Ardi

Hidup mati, orang hidup pasti akan mati, se simpel itu sih sebenarnya, namun waktu rentang antara hidup dan mati ini yang sangat perlu kita renungkan.

Renungkan mungkin bisa jadi hanya kalimat bijak dalam rangkaian kata diatas tentunya jika tanpa di implementasikan dalam laku rentan hidup menuju mati.

Dalam rentan waktu tersebut kita menjalani peran dari yang paling dasar hinnga paling tinggi dalam undak berundak strata sosial masyarakat dan berbangsa.

Peran sebagai anak, sebagai orang tua sebagia karyawan, pemimpin, dan pemimpinya pemimpin .

Saya ingin mengarahkan poin pemimpin saja dalam pembahasan ini, lebih spsifik kepada pemimpin masrakat dalam struktur bernegara.

Norma agama menjelaskan tentang hal ini secara mendetail,bagaimana tanggung jawab menjadi seorang pemimpin, tangung jawab secara vertikal maupun horizontal.

Sebagai bagian dari masyarakat agamis tentunya ketentuan agama tsb menjadi pengingat moral secara keseluruhan terhadap semua lapisan masyarakat dan tak mengenal strata, karena agama memiliki konsep kesetaraan antar sesama manusia dalam menjalankan aturan ketetapan agama, yang menjadi pembeda adalah hanya amal dan ibadahnya saja.

Saya megartikan amal ibadah pemimpin (dengan kedangkalan berfikir saya) tentunya akan lebih  memiliki spektrum permasalahan yang berbias ke segala aspek.
dan bertanggung jawab pula kebanyak aspek vertikal pun horizontal.

Sehingga tidak mudalah menjadi seorang pemimpin. namun bukan berarti kata tidak mudah itu berkonotasi bahwa seorang pemimpin itu pastilah orang yang hebat, bisa jadi pemimpin itu di dudukan justru sebagai pengingat bahwa banyak hal buruk yang harus diubah dalam makna hidup yang lebih luas.

Lagi -lagi kembali kepada apakah kita hidup di rentan waktu pemimpin yang hebat atau pemimpin yang di dudukan sebagai pengingat bahwa kita harus berbenah.

Konsept umum menilai kedua hal tersebut bisa kita gambarkan dengan sederhana, lihatlah pemimpinmu nilai dengan hatimu dapatkah jadi tauladanmu untuk menjadi insan yang lebih baik sesuai kaidah moral keimananmu atau sebaliknya.

Rentan waktu singkat kita hidup ini menuntut kita untuk lebih cepat mengambil sikap dan lebih tepat mengunakan kecerdasan hati untuk bersikap menilai apakah pemimpin kita bisa menjadi tauladan umat atau bisa menjadi cermin baik suatu masyarakat? atau bahkan sebaliknya! , karena sepakat kita katakan bahwa pemimpin adalah cermin sebagian besar orang yang di pimpinnya.

Ubah dirimu terlebih dahulu atau ubah pemimpinmu, itu pun jika engkau merasa perlu.

Selamat siang
*ardi-hendak berangkat ngopi.

Doa Untuk TGB Diantara Dakwah dan Fitnah

Oleh : iwan piliang

Jumat pekan lalu Zulkifli Hasan, Ketua MPR di saat bicara usai shalat Jumat berjamaah dengan Tuan Guru Bajang (TGB), atau Zainul Majdi, mendoakan figur hafiz Alquran ini  bisa memimpin Indonesia. Ini entah sudah hitungan ke berapa kali TGB didoakan tokoh, ulama, kyai, buya,  orang biasa, tua-muda, jadi Presiden RI 2019.

Foto mereka  berdua di dalam masjid, Islamic Centre, Mataram, Lombok, NTB, beredar di Sosmed. TGB, sesuai kalimat saya kutip di Facebook Saya TGB,  menjawab Ketua MPR itu, "Astagfirullah."

Saya menjadi teringat kata-kata Mas Ganang Priyambodo, cucu tertua Panglima Besar Soedirman. Ia pernah mengkritisi laku sujud syukur dilakukan pejabat ketika memperoleh jabatan menteri. "Dapat jabatan kok syukur, harusnya diucapkan Innalillahi wainnailaihi rojiun."

Menjadi pemimpin memang tak mudah bila berpikir akhirat.

Sebagai ulama, TGB acap kali bilang jadi gubernur sudah berlebih. "Kita dakwah, dakwah saja. Berdakwah dapat pahala," tuturnya. Saya duga dakwah itu bentuk "beban" jadi pemimpin.  Risma, Walikota Surabaya, kader PDIP, pernah mengutip hadis, "Pemimpin paling terakhir  masuk surga..."  Mungkin perihal itu pula menjadi ganjalan hati  TGB.

Sebelum Jumat lalu, anggota DPR dari PDIP mengritisi TGB sebagai gubernur gagal. Ia juga mempersoalkan penjualan saham Newmont di NTB.

Saya berkawan baik dengan  sosok muda di PDIP,  Komarudin Watubun, Ketua Bidang Kehormatan, jabatan  pernah dipikul Alm Taufik Kiemas. Beberapa kali di momen kongkow,   saya menyimak ada wajah  pengkritik, lebih tepat pemfitnah TGB, baru saya  ngeh  Rahmat Hidayat namanya.

Mengkritisi TGB,  figur kami gadang-gadang dengan #TGB2019, dan "alam" ternyata telah mempermalukan Rahmat. Contoh soal penjualan saham Newmont, perihal itu sudah duluan disetujui antara lain Pemda Kabupaten  Sumbawa, di mana sang Bupati didukung PDIP, ikut mendampingi konperensi pers Rahmat menuding TGB.

Enteng nyaris tanpa beban, TGB menjawab. Ia menandatangani penjualan saham porsi Pemda NTB itu setelah dua Bupati teken, baru sebagai gubernur ia setujui. Tentu pula setelah melalui rapat paripurna di DPRD.

Maka kuat dugaan saya, laku anggota DPR RI PDIP itu lebih tertuju karena TGB kini kian bunyi di kancah nasional. Ia digadang jadi Capres bukan saja oleh umat Muslim, tetapi figur seperti Fransiskus Widodo, sahabat saya di Kebumen, Jawa Tengah, salah satu militan mensosialisasikan di Sosmed #TGB2019.   Terang sebagai Katolik ia sangat respek TGB. Jernih setiap konten dibuatnya.

Undangan kepada TGB berkhutbah, tablik akbar kini mengalir dari berbagai pelosok. Pada 4 - 6 Agustus lalu TGB safari dakwah ke Sumut, selain Medan  juga ke Kisaran, Asahan, Binjai.

Langkah tulusnya seakan dialirkan alam.

Undangan dari Ikatan Pesantren Indonesia, IPI ke Sumut. Maka ketika ketika Agung Alkautsary mengirim pesan ke saya kaget ada TGB ke Medan. Ia mengingatkan saya agar TGB ke pesantren Alkautsar, dipimpin Ulama Besar Medan, Ali Akbar Marbun, ayahanda Agung.

Mereka berdua sempat diundang Presiden Jokowi, ke Istana Negara Selasanya, zikir bersama. Saya menyimak foto kiriman  Ustad Agung di Istana.

"Itu Abah di samping presiden," kata Agung. Saya simak di kiri Bapak Jokowi, Buya Ali akbar,  di kanannya Kyai Maimun Zubair.

"Jadi abang ajaklah TGB ke pesantren."

Saya jawab tak ikut rombongan. Sambil sarankan  membuat surat resmi hari itu juga. Di luar dugaan, TGB menjawab via WA ia Insya Alloh mampir ke Alkautsar malam hari itu, langsung dari luar kota Medan.

Para santri menanti TGB menjadi imam shalat Isya. Mereka riang alang-kepalang. TGB diberi ulos oleh Buya, dalam upacara budaya singkat.

Keesokannya Agung menanyakan lagi jam berapa TGB take off pulang ke Lombok, "Abah ingin jumpa lagi."

Rupanya Buya Ali Akbar  adalah adik kelas Almarhum  Maulana Syekh - - pendiri Nahdlatul Wathan, kakek TGB - - ketika studi di Mekah dulu.

Maka ketika TGB hendak naik tangga pesawat pulang dari Medan, secara khusus Buya Ali Akbar Marbun memanjatkan doa.

Saya tanya kepada Ustad Agung apa doa Buya?

"Sama, selain keselamatan, berdoa agar bisa jadi pemimpin bangsa ini."

Apakah Buya pernah berbuat hal sama terhadap figur lain?

"Belum pernah Bang. Abah sangat respek TGB."

Maka jika saja Komarudin Watubun tahu saya kini mengatakan TGB presiden direstui alam 2019, Komar pasti ingat kalimat sama pernah saya lontarkan ke seseorang jauh sebelum orang itu sangat berbunyi.

Saya percaya pula  Komar sebagai pribadi akan marah kepada Rahmat Hidayat, jika ia tahu saya sangat yakin TGB muhallil, solusi untuk bangsa dan negara.





Tentang Gelas Kosong

Oleh : lalu anshori

Dulu beberapa kali aku sering mendengar istilah kalimat gelas kosong untuk mengumpamakan tentang pengetahuan seseorang, atau karakter orang lain. namun hal yang paling menarik dari itu semua adalah ketika kalimat ini didekatkan dengan tafsir untuk memperjelas bagaimana kita memandang dunia politik, ketika itu ungkapan ini saya mendengarnya dari seorang #TGB iya mengatakan bahwa politik itu seumpama gelas jika gelas itu  diisi dengan hal baik maka akan bermanfaat namun sebaliknya jika diisi dengan hal yang tidak baik maka begitu juga kecendrungannya.
Kenapa ini menarik bagi saya, karena terkadang kita tak mengerti antara alat dan tujuan, politik adalah seperangkat alat untuk membuat sebuah kebijakan yang sangat strategis dan potensial untuk memperoduksi aturan yang selalu mengikat kepada hal hal maslahat untuk ummat, jadi menurut saya salah besar ketika kita tak ambil jalur politik untuk menjadikan ia sebagai perangkat alat dakwah, karena bagaimanapun kebaikan yang tidak tersetruktur dengan baik maka akan dikalahkan dengan keburukan yang dijalankan dengan sangat sistematik.
Untuk #TGB yang benar benar saya pandang sebagai seorang tauladan bagi banyak orang tak lupa pula bagi saya, tentu terjunnya beliau dalam dunia politik mengambil peluang besar untuk lebih dikenal sebagai tokoh yang sangat progresif untuk mengabdikan diri untuk ummat, lebih lebih iya juga sebagai Tuan guru yang secara akademik diakui sebagai alumnus universitas terkemuka di kairo, sehingga dengan almamater sebagai alumnus Al Azhar tentu ini cukup berat mennyeimbangkan antara peran pemerintahan pada struktur aparatur Negara dengan peran sebagai ketokohan untuk memberikan pengetahuan tentang dakwah keislaman ditengah tengah masyarakat.
Tentang tulisan ini sebenarnya saya hanya ingin menitip pesan bagi saya atau kita semua, bahwa nilai sebuah wadah akan semakin tinggi tergantung kwalitas apa yang mengisinya, jika segelas itu hanya berisi air tentu harganya tak lebih tinggi dari segelas madu yang asli. Dan yang paling penting dibalik itu semua ada hal yang paling itsimewa dari hanya sekedar sebuah gelas kosong iyalah siapa yang menuang isi dari sebuah gelas tersebut,,
Jika ada penomena tentang kritikan kritikan yang bukan sifatnya membangun tak hanya kita bisa menilai dari sebuah gelasnya tapi nilai juga siapa yang sedang asik menuang wadah gelas tersebut artinya otak-otak yang mengkeritik dengan tanpa ada solusi  bis kita nilai juga dari siapa dibelakang otaknya yang sedang asik menyambung selang menuju implusnya dibelakang otak besarnya. Istilah jaman dulu “sang arak cupak lek mudin bongkorne”..
#TGB2019


Tanpa judul

Oleh : wahyudi

Ku lepaskan kehangatan wedang racikan istri
Dan kelindan si buyung dini hari
Untuk menembus hutan raya
Berperang dengan para patriot lainnya
Agar terbebas jiwa mu yang terbelenggu
Merdeka nyawa dan ragamu

Biarlah darah ini tumpah mengairi sawah sawah
Dan jadikan daging belulang ini pupuk haranya
Biar hijau rumput dan ladang semua
Agar gemuk kambing dan sapi yang memakannya

Bahagia rasa mengikhlaskan semua
Demi si buyung dan cucu cicitnya

Tapi lenggangku terhenti,
Terpaku di gerbang nirwana
Aku menoleh,

Kalian masih berkelahi satu sama lain
Saling menghina dan caci maki
Berkhianat pada saudara sendiri
Menjual darah dan harga diri
Memfitnah sanak sedarah
Melacurkan kehormatan pada musuh

Oh,
Sia sia kah perjuangan kami?
Tak bergunakah pengorbanan ini?
Tak adakah manfaat dari nyawa kami?
Harapan kami akan kesejahteraanmu mengapa tak kalian selaraskan?

Luka ini masih menganga
Bahkan semakin berdarah
Dalam air mata merah darah aku menengadah

Tuhan,
Tolong sekali lagi,
Selamatkan negeri kami

17 17 17
#TGB2019



MEMBANGUN KESADARAN INDIVIDU

Oleh : lalu anshor
--------------------
Bagi saya, menulis tentang berbagai pandangan banyak hal dari seorang TGB adalah sebuah upaya sederhana untuk saya  agar lebih bisa meneladani dari sisi yang bisa kita jadikan sebagai pemicu dalam berbuat kebaikan, karena saya meyakini betul keilmuan dari seorang #TGB adalah keilmuan yang akan selalau hidup dan bisa dicontoh oleh banyak kalangan,dan ini tentu membuatnya lebih istimewa karena bagi seorang pendidik TGB mencontohkan banyak hal seperti  prestasi akademiknya, bagaimana perjalanan pendidikan yang pernah dijalani, iya lahir dari rahim pesantren dari daerah terpencil kepulauan indonesia tepatnya Lombok NtB dan menempuh pendidikan ke luar negeri dengan komitmen mempelajari ilmu keislaman dengan prestasi yang tertinggi dalam bidang ilmu tafsir Al-Qur an.
Jika kita ingin meneladani beliau dari hal karir politik kitapun bisa melihat bagaimana posisi beliau sejak muda sudah menunjukkan prestasi sbg kepala daerah termuda seindonesia dengan segudang penghargaan dari banyak kalangan. Bagi para pendidik tentu apalagi yang tak bisa dicontoh dari sang TGB bukankah #TGB adalah yang paling padat jadwal Dakwahnya dari gubernur lainnya, atau bahkan hanya #TGB sebagai kepala daerah yang punya jadwal rutin dakwah keliling menyapa jamaah Nusantara..
Dari sekian hal yang banyak untuk kita teladani dari sosok #TGB ternyata satu hal yang scr kesadaran pribadi yang saya bisa tangkap dari sekian prestasi yang pernah didapat oleh beliau, yang ingin #TGB sampaikan kepada masyarakat NTB yaitu kesadaran berhenti berfikir pesimis tentang NTB dan setiap orang NTB tak lagi menggantungkan harapan kpd orang lain untuk memajukan daerahnya dan #TGB bilang agar Setiap orang NTB akan bangga mengatakan saya orang NTB, dan menyadari bahwa NTB Nasib Ternyata Baik.dari inilah kemudian akan lahir kesadaran sprt ungkapan Hamzanwadi ttg pulau lombok"
Pulau lombok kecil sekali
tapi gunungnya besar dan tinggi
Jika orang pandai mengkaji pasilah sujud 1000x
#TGB2019

#TGB2019 dan Jalan Dakwah memimpin Bangsa.

Oleh : azwar siregar

Sungguh sangat sulit menulis tentang TGB.
Beliau selalu mengajak untuk meninggikan semua orang tapi tidak untuk dirinya sendiri.
Beliau ini justru Istighfar ketika di Puji Sebagai calon pemimpin masa depan,bukan malah sumringah dan mengucapkan "Alhamdulillah"  dengan bangga layaknya kita semua.
Sosok yang selalu berpesan untuk selalu menebar kebaikan lewat jalan Dakwah.
Jalan dakwah itu mengajak bukan memerintah apalagi mengancam.
Alangkah Indahnya Indonesia bila Presiden kita yang akan datang membawa damai untuk semua,menyatukan yang tercerai dan mengumpulkan yang terpisah. Itu jalan Dakwah.
Presiden yang tidak akan canggung Azan bahkan jadi Imam baik dalam beribadah maupun bernegara. Itu jalan Dakwah.
Presiden yang teruji kemampuannya, terbukti prestasinya dan terukur komitmennya. Itu jalan Dakwah.
Jalan Dakwah tidak akan menyalahkan orang lain,masa lalu atau bermimpi dengan kapsul waktu.
Jalan Dakwah itu bekerja keras sambil berdoa dan mengharap ridho Tuhan.
Dengan Jalan Dakwah ; Ayo Kerja...Kerja...Kerja tapi jangan lupa Ibadah dan Berdoa.