Oleh : lalu anshori
Dulu beberapa kali aku sering mendengar istilah kalimat gelas kosong untuk mengumpamakan tentang pengetahuan seseorang, atau karakter orang lain. namun hal yang paling menarik dari itu semua adalah ketika kalimat ini didekatkan dengan tafsir untuk memperjelas bagaimana kita memandang dunia politik, ketika itu ungkapan ini saya mendengarnya dari seorang #TGB iya mengatakan bahwa politik itu seumpama gelas jika gelas itu diisi dengan hal baik maka akan bermanfaat namun sebaliknya jika diisi dengan hal yang tidak baik maka begitu juga kecendrungannya.
Kenapa ini menarik bagi saya, karena terkadang kita tak mengerti antara alat dan tujuan, politik adalah seperangkat alat untuk membuat sebuah kebijakan yang sangat strategis dan potensial untuk memperoduksi aturan yang selalu mengikat kepada hal hal maslahat untuk ummat, jadi menurut saya salah besar ketika kita tak ambil jalur politik untuk menjadikan ia sebagai perangkat alat dakwah, karena bagaimanapun kebaikan yang tidak tersetruktur dengan baik maka akan dikalahkan dengan keburukan yang dijalankan dengan sangat sistematik.
Untuk #TGB yang benar benar saya pandang sebagai seorang tauladan bagi banyak orang tak lupa pula bagi saya, tentu terjunnya beliau dalam dunia politik mengambil peluang besar untuk lebih dikenal sebagai tokoh yang sangat progresif untuk mengabdikan diri untuk ummat, lebih lebih iya juga sebagai Tuan guru yang secara akademik diakui sebagai alumnus universitas terkemuka di kairo, sehingga dengan almamater sebagai alumnus Al Azhar tentu ini cukup berat mennyeimbangkan antara peran pemerintahan pada struktur aparatur Negara dengan peran sebagai ketokohan untuk memberikan pengetahuan tentang dakwah keislaman ditengah tengah masyarakat.
Tentang tulisan ini sebenarnya saya hanya ingin menitip pesan bagi saya atau kita semua, bahwa nilai sebuah wadah akan semakin tinggi tergantung kwalitas apa yang mengisinya, jika segelas itu hanya berisi air tentu harganya tak lebih tinggi dari segelas madu yang asli. Dan yang paling penting dibalik itu semua ada hal yang paling itsimewa dari hanya sekedar sebuah gelas kosong iyalah siapa yang menuang isi dari sebuah gelas tersebut,,
Jika ada penomena tentang kritikan kritikan yang bukan sifatnya membangun tak hanya kita bisa menilai dari sebuah gelasnya tapi nilai juga siapa yang sedang asik menuang wadah gelas tersebut artinya otak-otak yang mengkeritik dengan tanpa ada solusi bis kita nilai juga dari siapa dibelakang otaknya yang sedang asik menyambung selang menuju implusnya dibelakang otak besarnya. Istilah jaman dulu “sang arak cupak lek mudin bongkorne”..
#TGB2019

Tidak ada komentar:
Posting Komentar