Kamis, 17 Agustus 2017

UBAH DIRIMU, PEMIMPINMU. ITU-PUN JIKA ENGKAU MERASA PERLU

Oleh : Ardi

Hidup mati, orang hidup pasti akan mati, se simpel itu sih sebenarnya, namun waktu rentang antara hidup dan mati ini yang sangat perlu kita renungkan.

Renungkan mungkin bisa jadi hanya kalimat bijak dalam rangkaian kata diatas tentunya jika tanpa di implementasikan dalam laku rentan hidup menuju mati.

Dalam rentan waktu tersebut kita menjalani peran dari yang paling dasar hinnga paling tinggi dalam undak berundak strata sosial masyarakat dan berbangsa.

Peran sebagai anak, sebagai orang tua sebagia karyawan, pemimpin, dan pemimpinya pemimpin .

Saya ingin mengarahkan poin pemimpin saja dalam pembahasan ini, lebih spsifik kepada pemimpin masrakat dalam struktur bernegara.

Norma agama menjelaskan tentang hal ini secara mendetail,bagaimana tanggung jawab menjadi seorang pemimpin, tangung jawab secara vertikal maupun horizontal.

Sebagai bagian dari masyarakat agamis tentunya ketentuan agama tsb menjadi pengingat moral secara keseluruhan terhadap semua lapisan masyarakat dan tak mengenal strata, karena agama memiliki konsep kesetaraan antar sesama manusia dalam menjalankan aturan ketetapan agama, yang menjadi pembeda adalah hanya amal dan ibadahnya saja.

Saya megartikan amal ibadah pemimpin (dengan kedangkalan berfikir saya) tentunya akan lebih  memiliki spektrum permasalahan yang berbias ke segala aspek.
dan bertanggung jawab pula kebanyak aspek vertikal pun horizontal.

Sehingga tidak mudalah menjadi seorang pemimpin. namun bukan berarti kata tidak mudah itu berkonotasi bahwa seorang pemimpin itu pastilah orang yang hebat, bisa jadi pemimpin itu di dudukan justru sebagai pengingat bahwa banyak hal buruk yang harus diubah dalam makna hidup yang lebih luas.

Lagi -lagi kembali kepada apakah kita hidup di rentan waktu pemimpin yang hebat atau pemimpin yang di dudukan sebagai pengingat bahwa kita harus berbenah.

Konsept umum menilai kedua hal tersebut bisa kita gambarkan dengan sederhana, lihatlah pemimpinmu nilai dengan hatimu dapatkah jadi tauladanmu untuk menjadi insan yang lebih baik sesuai kaidah moral keimananmu atau sebaliknya.

Rentan waktu singkat kita hidup ini menuntut kita untuk lebih cepat mengambil sikap dan lebih tepat mengunakan kecerdasan hati untuk bersikap menilai apakah pemimpin kita bisa menjadi tauladan umat atau bisa menjadi cermin baik suatu masyarakat? atau bahkan sebaliknya! , karena sepakat kita katakan bahwa pemimpin adalah cermin sebagian besar orang yang di pimpinnya.

Ubah dirimu terlebih dahulu atau ubah pemimpinmu, itu pun jika engkau merasa perlu.

Selamat siang
*ardi-hendak berangkat ngopi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar