Kamis, 17 Agustus 2017

Doa Untuk TGB Diantara Dakwah dan Fitnah

Oleh : iwan piliang

Jumat pekan lalu Zulkifli Hasan, Ketua MPR di saat bicara usai shalat Jumat berjamaah dengan Tuan Guru Bajang (TGB), atau Zainul Majdi, mendoakan figur hafiz Alquran ini  bisa memimpin Indonesia. Ini entah sudah hitungan ke berapa kali TGB didoakan tokoh, ulama, kyai, buya,  orang biasa, tua-muda, jadi Presiden RI 2019.

Foto mereka  berdua di dalam masjid, Islamic Centre, Mataram, Lombok, NTB, beredar di Sosmed. TGB, sesuai kalimat saya kutip di Facebook Saya TGB,  menjawab Ketua MPR itu, "Astagfirullah."

Saya menjadi teringat kata-kata Mas Ganang Priyambodo, cucu tertua Panglima Besar Soedirman. Ia pernah mengkritisi laku sujud syukur dilakukan pejabat ketika memperoleh jabatan menteri. "Dapat jabatan kok syukur, harusnya diucapkan Innalillahi wainnailaihi rojiun."

Menjadi pemimpin memang tak mudah bila berpikir akhirat.

Sebagai ulama, TGB acap kali bilang jadi gubernur sudah berlebih. "Kita dakwah, dakwah saja. Berdakwah dapat pahala," tuturnya. Saya duga dakwah itu bentuk "beban" jadi pemimpin.  Risma, Walikota Surabaya, kader PDIP, pernah mengutip hadis, "Pemimpin paling terakhir  masuk surga..."  Mungkin perihal itu pula menjadi ganjalan hati  TGB.

Sebelum Jumat lalu, anggota DPR dari PDIP mengritisi TGB sebagai gubernur gagal. Ia juga mempersoalkan penjualan saham Newmont di NTB.

Saya berkawan baik dengan  sosok muda di PDIP,  Komarudin Watubun, Ketua Bidang Kehormatan, jabatan  pernah dipikul Alm Taufik Kiemas. Beberapa kali di momen kongkow,   saya menyimak ada wajah  pengkritik, lebih tepat pemfitnah TGB, baru saya  ngeh  Rahmat Hidayat namanya.

Mengkritisi TGB,  figur kami gadang-gadang dengan #TGB2019, dan "alam" ternyata telah mempermalukan Rahmat. Contoh soal penjualan saham Newmont, perihal itu sudah duluan disetujui antara lain Pemda Kabupaten  Sumbawa, di mana sang Bupati didukung PDIP, ikut mendampingi konperensi pers Rahmat menuding TGB.

Enteng nyaris tanpa beban, TGB menjawab. Ia menandatangani penjualan saham porsi Pemda NTB itu setelah dua Bupati teken, baru sebagai gubernur ia setujui. Tentu pula setelah melalui rapat paripurna di DPRD.

Maka kuat dugaan saya, laku anggota DPR RI PDIP itu lebih tertuju karena TGB kini kian bunyi di kancah nasional. Ia digadang jadi Capres bukan saja oleh umat Muslim, tetapi figur seperti Fransiskus Widodo, sahabat saya di Kebumen, Jawa Tengah, salah satu militan mensosialisasikan di Sosmed #TGB2019.   Terang sebagai Katolik ia sangat respek TGB. Jernih setiap konten dibuatnya.

Undangan kepada TGB berkhutbah, tablik akbar kini mengalir dari berbagai pelosok. Pada 4 - 6 Agustus lalu TGB safari dakwah ke Sumut, selain Medan  juga ke Kisaran, Asahan, Binjai.

Langkah tulusnya seakan dialirkan alam.

Undangan dari Ikatan Pesantren Indonesia, IPI ke Sumut. Maka ketika ketika Agung Alkautsary mengirim pesan ke saya kaget ada TGB ke Medan. Ia mengingatkan saya agar TGB ke pesantren Alkautsar, dipimpin Ulama Besar Medan, Ali Akbar Marbun, ayahanda Agung.

Mereka berdua sempat diundang Presiden Jokowi, ke Istana Negara Selasanya, zikir bersama. Saya menyimak foto kiriman  Ustad Agung di Istana.

"Itu Abah di samping presiden," kata Agung. Saya simak di kiri Bapak Jokowi, Buya Ali akbar,  di kanannya Kyai Maimun Zubair.

"Jadi abang ajaklah TGB ke pesantren."

Saya jawab tak ikut rombongan. Sambil sarankan  membuat surat resmi hari itu juga. Di luar dugaan, TGB menjawab via WA ia Insya Alloh mampir ke Alkautsar malam hari itu, langsung dari luar kota Medan.

Para santri menanti TGB menjadi imam shalat Isya. Mereka riang alang-kepalang. TGB diberi ulos oleh Buya, dalam upacara budaya singkat.

Keesokannya Agung menanyakan lagi jam berapa TGB take off pulang ke Lombok, "Abah ingin jumpa lagi."

Rupanya Buya Ali Akbar  adalah adik kelas Almarhum  Maulana Syekh - - pendiri Nahdlatul Wathan, kakek TGB - - ketika studi di Mekah dulu.

Maka ketika TGB hendak naik tangga pesawat pulang dari Medan, secara khusus Buya Ali Akbar Marbun memanjatkan doa.

Saya tanya kepada Ustad Agung apa doa Buya?

"Sama, selain keselamatan, berdoa agar bisa jadi pemimpin bangsa ini."

Apakah Buya pernah berbuat hal sama terhadap figur lain?

"Belum pernah Bang. Abah sangat respek TGB."

Maka jika saja Komarudin Watubun tahu saya kini mengatakan TGB presiden direstui alam 2019, Komar pasti ingat kalimat sama pernah saya lontarkan ke seseorang jauh sebelum orang itu sangat berbunyi.

Saya percaya pula  Komar sebagai pribadi akan marah kepada Rahmat Hidayat, jika ia tahu saya sangat yakin TGB muhallil, solusi untuk bangsa dan negara.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar